Minggu, 12 Februari 2017

laporan praktek lapang kakao



LAPORAN PRAKTEK LAPANG
 TANAMAN PERKEBUNAN UTAMA
KAKAO (Theobroma cacao. L) DI KABUPATEN KOLAKA UTARA




EKO ARDANA
B1A213064





PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN, DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS SEMBILANBELAS NOVEMBER
KOLAKA
2017

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur ke hadirat ALLAH S.W.T atas rahmat dan karunia-Nya, kami telah menyelesaikan laporan ’’ LAPORAN PRAKTEK LAPANG TANAMAN PERKEBUNAN UTAMA KAKAO (theobroma cacao. L) DI KABUPATEN KOLAKA UTARA” Dengan segala kerendahan hati kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tugas yang dipercayakan kepada kami belum memperoleh hasil yang memuaskan seperti yang diharapkan, oleh karena itu ada berapa masalah  yang belum berjalan dengan baik.
kami mengucapkan terima kasih atas bantuan serta dukungannya  dalam melaksanakan amanat tentang tugas ini yang di tanggung jawabkan kepada kami, tidak lupa kami  juga menginginkan saran dan pedapat yang terkait dengan pembahasan ini sehingga makalah ini dapat lebih maju dan berkembang sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama.
Harapan kami semoga ALLAH SWT selalu memberikan taufik dan hidayah Nya Kepada kita semua. Amin ya Robabal ‘alamin.








                                               


DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A.       Latar Belakang.................................................................................... 1
B.       Tujuan.................................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 4
A.       Botani Tanaman Kakao....................................................................... 4
B.       Kelas Kesesuain Lahan Kakao............................................................ 5
C.       Pemupukan Pada Budidaya Kakao..................................................... 7
D.       Dosis waktu dan frekuensi pemupukan.............................................. 9
E.        Tehnik sambung samping dan sambung pucuk................................. 11
BAB III METODE PELAKSANAAN............................................................ 14
A.       Tempat dan waktu pelaksanaan........................................................ 14
B.       Mode kegiatan................................................................................... 14
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................. 27
A.       Gambaran umum tempat penelitian................................................... 47
B.       Produk yang dihasilkan..................................................................... 47
C.       Kebutuhan tenaga kerja..................................................................... 47
D.       Luas lahan......................................................................................... 47
E.        Jumlah produksi................................................................................ 48
F.        Cara menghitung jumlah pupuk........................................................ 48
G.       Perhitungan jumlah biaya.................................................................. 48
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 50
A.       Kesimpulan........................................................................................ 50
B.       saran.................................................................................................. 50
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 51


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Praktek lapang adalah penerapan seorang mahasiswa pada dunia kerja nyata yang sesungguhnya, yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan mahasiswa bukan hanya ilmu teori tetapi juga ilmu lapangan, serta untuk mendapatkan kesempatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ada kaitannya dengan kurikulum pendidikan.
Praktik lapang tanaman perkebunan utama adalah kegiatan yang dilakukan mahasiswa yang bertujuan memberikan pengalaman praktik di lapangan yang secara langsung berhubungan dengan teori-teori keahlian yang diterima di bangku perkuliahan. Oleh sebab itu, praktek kerja lapangan secara langsung dapat memperkenalkan metode tata cara melakukan budidaya tanaman perkebunan utama agar kiranya mahasiswa setelah tiba didunia kerja yang akan dihadapi setelah meninggalkan bangku perkuliahan mampu mengimplemtasikan hasil pengalaman prakteknya di lapangan.
Maka dari itu mempelajari budidaya tanaman perkebunan kakao itu sangatlah penting bagi mahasiswa bukan hanya teori tapi juga mampu secara praktek lapangan agar kiaranya nantinya bermanfaat di masa setelah menyelesaikan studi dibangku perkuliahan.
Melalui Praktek Kerja Lapangan yang inilah diharapkan akan terbentuk orang – orang yang memiliki keahlian dan pemahaman yang baik atas bidang yang di gelutinya, sehingga dapat memberikan prestasi maksimal dalam pembangunan nasional. Pembelajaran dengan praktikum sangat efektif untuk mencapai seluruh ranah pengetahuan secara bersamaan, antara lain melatih agar teori dapat diterapkan pada permasalahan yang nyata (kognitif), melatih perencanaan kegiatan secara mandiri (afektif), dan melatih penggunaan instrumen tertentu (psikomotor) (Rahayuningsih, 2005).Salah satu kelebihan pembelajaran praktikum adalah mahasiswa dapat berlatih secara trial and error, dapat mengulang-ulang kegiatan atau tindakan yang sama sampai benar-benar terampil (Sumiatun, 2013).
Gambar 1.1 Tanaman kakao
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Di samping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2009, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi ± 1.29 juta kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga pada sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar 624 juta dollar AS (Ditjen Perkebunan 2010). Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan salah satu sentral perkebunan kakao di Indonesia, sampai tahun 2009 luas tanaman kakao mencapai kurang lebih 200 125 ha dengan produksi 134 775 ton.
Pada Desa Meeto Kecamatan Kodeoha Kab. Kolaka Utara salah satu desa yang komoditas andalannya yaitu kakao, khususnya sebagai mata pencaharian sumber utama pendapatan bagi yang berpropesi petani. Petani di desa meeto kecamatan kodeoha kab.kolaka utara sangatlah ahli dalam mebudidayakan tanaman perkebunan kakao mulai dari mulai dari pemilihan bibit yang berkualitas baik, sambung pucuk, pemeliharaan yang baik, pemupukan, pemberantasan hama, pemangkasan yang baik, tehnik peremajaan sambung samping sampai produksi.
B.       Tujuan praktikum
Dari uraian latar belakang diatas maka tujuan  praktek lapang ini adalah sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui atau mengenal budidaya tanaman kakao
2.        Untuk mengetahui persiapan lahan, pembibitan, sambung samping, sambung pucuk, penanaman, pemeliharaan, pemangkasan  sampai dengan pemanenan dan penanganan pasca panen.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Botani Tanaman Kakao
Daerah utama pertanaman kakao adalah hutan hujan tropis di Amerika Tengah, tepatnya pada wilayah 18o Lintang Utara sampai 15o Lintang Selatan. Daerah-daerah dari selatan Meksiko sampai ke Bolivia dan Brazilia adalah tempat-tempat tanaman kakao tumbuh sebagai tanaman liar. Beberapa spesies Theobroma yang diketahui, antara lain Theobroma bicolor, Theobroma sylvestris, Theobroma pentagona, dan Theobroma augustifolia, merupakan spesies yang pada awalnya juga dimanfaatkan sebagai penghasil biji sebagai campuran.Tanaman Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan, menurut Cheesman (dalam Heddy, 1990), sistematika tanaman Kakao adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Phyta.
       Divisi               : Spermatophyta.
              Kelas               : Dicotillidoneae.
                      Ordo                : Malvales.
                             Famili              : Sterculiaeeae.
                                    Genus              : Theobroma.
                                           Species            : Theobroma Cacao L.
Selanjutnya Cheesman (dalam Heddy, 1990) menambahkan bahwa tanaman Kakao dibagi ;lagi dalam dua tipe besar yaitu ;
1.        Criollo      :           a. Criollo Amerika Tengah.
                        b. Criollo Amerika Selatan.
2.        Forestero  :           a. Forestero Amazeno.
                                    b. Trinitario  (merupakan hibrida Criollo dengan Forestero).
Tanaman Kakao tidak pernah tumbuh sampai tinggi sekali, pada umur 3 tahun tinggi sudah mencapai 1,8 sampai 3 meter dan pada umur 12 tahun mencapai tinggi maksimum antara 3,9 sampai 5,9 meter.
Akar tunggang tanaman Kakao tumbuh lurus kebawah dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lapisan tanah. Pada tanaman dewasa akar-akar sekunder menyebar 15 – 20 cm dibawah permukaan tanah (Sumarli, 1983). Susunan daun Kakao tunggal, mempunyai tangkai daun dan helaian daun. Ukuran tangkai daun pendek, pada pangkal dan ujung tangkai terdapat sendi sendi daun ( Suyoto, 1983). Daun-daun dewasa selalu berwarna hijau, dapat mencapai panjang lebih kurang 25 – 30 cm dan lebar antara 7,5 – 10 cm (Heddy et al, 1990). Bunga Kakao tumbuh berkelompok pada bantalan bunga yang menempel pada batang tua dan cabang- cabang  serta ranting, bunganya berukuran kecil, warnanya putih kemerah merahan dan tidak berbau (Situmorang, 1972).
Buah Kakao merupakan buah bumi yang mempunyai rusuk (alur) sepuluh buah. Dinding buah terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan luar yang tebal dan keras (kulit) dan lapisan dalam yang lebih tebal, lunak,  mengandung air serta pada lapisan dalam akan menjadi daging  buah yang rasanya manis. Pada waktu buah masih muda, biji menempel pada daging buah, tetapi setelah buah menjadi tua. Lendir terpisah dari dinding buah sehingga biji biji mengumpul ditengah dan terjadilah rongga didalamnya. Buah Kakao yang telah masak apabila digoncang akan berbunyi (Suyoto, 1983).
B.       Kelas Kesesuaian Lahan Kakao
Gamabar 2.1 lahan kakao

Persyaratan Tumbuh Komoditi Kakao (Theobroma cacao L.)  Secara umum persyaratan tumbuh tanaman Kakao yaitu pada zona dataran rendah beriklim basah. Tanaman kakao toleran terhadap pH rendah (keasaman tinggi) memerlukan curah hujan tahunan memerlukan curah hujan tahunan rendah (memerlukan iklim yang relatif lebih kering).   Zona dataran rendah beriklim basah yang cocok untuk pengembangan tanaman kakao di Indonesia mencapai luasan 44,12 juta hektar menyebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, Maluku, Jawa, dan Sulawesi. Lahannya bervariasi mulai dari dataran pantai, gambut, volkan, dan karst. Topografinya mulai dari datar, berombak, bergelombang sampai berbukit. Tanah terbentuk dari bahan alluvium, batuan sedimen masam, batuan volkan, dan batu gamping, sehingga tanahnya bervariasi.  Di Sumatera zona dataran rendah beriklim basah mencapai luasan 15,65 juta ha menyebar dari Provinsi NAD (Aceh Timur, Aceh Barat dan Sebulussalam), Sumatera Utara (Labuhan batu, Asahan, Gunung Sitoli, Natal, Simalungun dan Langkat), Riau (Dumai, Bengkalis, Indragiri Hilir, Kampar dan Riau Kepulauan), Jambi (Muara Bulian, Bangko, Muarabungo, Bungotebo), Sumatera Barat (Lunang, Tiku, Pasaman, Sawahlunto Sijunjung dan Kepulauan Mentawai), Bengkulu (memanjang dari Bengkulu Utara sampai Bengkulu Selatan), Sumatera Selatan (OKI, Muba, Muara Enim, Lahat, dan Muara Dua) dan Lampung ( Sukadana, Kotabumi, dan Talang Padang)  Zona dataran rendah beriklim basah di pulau Kalimantan seluas 14,34 juta ha meliputi Kalimantan Barat (Pontianak, Singkawang, Sanggau, Sambas, Mepawah dan Ketapang), Kalimantan Tengah (Sebanggou, Kahayan, Kotawaringin Barat, Kota Waringin Timur, Barito Utara dan Kapuas), Kalimantan Selatan (Kutai Barat, Kutai Timur, Pasir, Kutai Kartanegara, Bulungan, dan Berau). 
Metode Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Komoditi Kakao. Potensi lahan untuk pengembangan komoditi kakao pada dasarnya ditentukan oleh sifat-sifat fisik dan lingkungan yang mencakup: tanah, topografi/bentuk wilayah, hidrdogi dan iklim. Kecocokan antara sifat-sifat fisik dengan persyaratan penggunaan suatu komoditas yang dievaluasi akan memberikan gambaran atau informasi bahwa tahan tersebut potensial untuk pengembangan komoditas tersebut. Hal tersebut juga memiliki pengertian bahwa jika lahan digunakan untuk penggunaan tertentu dengan memberikan masukan (Input) yang diperlukan maka akan memberikan hasil (ouput) sesuai dengan yang diharapkan.
Kriteria kesesuian lahan yang dimaksud adalah pedoman yang digunakan dalam menentukan/mengevaluasi lahan yang disurvai bagi keperluan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dalam kegiatan ini digunakan pedoman/kriteria kesesuaian lahan menurut Pusat Penelitian Tanah, 1993.
Berikut ini adalah uraian dari setiap faktor yang dapat mempengaruhi penilaian kesesuaian lahan di lokasi:
1.        Iklim,  unsur Iklim terpenting adalah curah hujan. - Hidrologi, unsur yang penting adatah ketersediaan air pengairan dan dampak keberadaan air tanah terhadap kondisi drainase, serta bahaya banjir.  Masalah hidrologi di sebagian lokasi lebih berupa teknis pengaturan tata air/drainase yang berdampak langsung terhadap proses pertumbuhan tanaman, khususnya di lahan-lahan yang saat ini sering atau selalu tergenang.
2.        Kemiringan Lereng. Kemiringan lereng merupakan salah satu masalah serius di sebagian lokasi. terutama pada areal dengan kemiringan lereng lebih dari 40%. Faktor kemiringan lereng lebih sebagai kendala dalam teknis pengelolaan kebun, seperti pengangkutan hasil atau panen, Tanah dengan kemiringan lereng lebih dari 40% juga beresiko besar mengalami erosi permukaan cukup berat. Penanaman tanaman penutup tanah (cover crop) sebaiknya tidak terlambat dilaksanakan pada lahan-lahan dengan kemiringan lereng di atas 15%.
3.        Tanah. Retensi hara pada sebagian besar jenis tanah yang ada memberikan indikasi bahwa pemupukan dengan dosis yang tepat merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan dan produksi tanaman. Beberapa jenis tanah  juga memiliki karakteristik sangat buruk, seperti tanah Regosol dan Podsol yang memiliki tekstur sangat kasar di seluruh lapisan. 
C.      Pemupukan Pada Budidaya Kakao
Gambar 2.2 pemupukan kakao
Proses Pemupukan Tanaman Kakao Sebelum ditanam, lebih baik lahan tanaman kakao dipersiapkan dengan pemberian pemupukan awal. Pemupukan tanaman kakao sebelum bibit ditanam dilakukan untuk merangsang pertumbuhan bibit coklat. Lubang-lubang untuk penanaman tanaman kakao diberi pupuk Agrophose sebanyak 300 gram di masing-masing lubang. Alternatif lain adalah dengan menggunakan pupuk urea sebanyak 200 gram di tiap lubang. Ditambahkan pula pupuk TSP sebanyak 100 gram pada masing-masing lubang. Tahapan awal pemupukan tanaman kakao ini diberikan dua minggu sebelum penanaman bibit cokelat. Setelah diberikan pupuk yang disebutkan di atas, maka lubang kemudian ditutup kembali dengan tanah atas. Boleh ditambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang pada tanah lapisan atas.
Pemupukan tanaman kakao merupakan salah satu kegiatan budidaya yang sangat penting dalam meningkatkan produksi buah kakao.  Hal ini disebabkan sebagian besar lahan pertanaman kakao memiliki base kesuburan lahan yang sangat beragam dan umumnya tergolong lahan yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang sangat rendah sampai sedang.
Selanjutnya berdasarkan hasil survei kesuburan tanah menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pertanaman di beberapa daerah memiliki status bahan organik yang sangat rendah. Selain itu penanaman tanaman kakao yang dilakukan oleh masyarakat seringkali mengabaikan pertimbangan konservasi lahan akibatnya proses kehilangan kesuburan tanah semakin meningkat setiap tahunnya.
Dengan demikian salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah pentingnya memperbaiki base kesuburan lahan melalui penambahan unsur hara lewat pemupukan. Masalahnya adalah rujukan pemupukan yang tersedia selama ini masih sangat umum, padahal kondisi di lapangan sangat bervariasi utamanya ditinjau dari aspek kesuburan lahan.  Belum lagi aspek-aspek lainnya seperti kondisi iklim dan tingkat pengelolaan serta aspek sosial ekonomi. Hal ini semua memberikan dampak terjadinya kesinambungan produksi kakao itu sendiri.
D.      Dosis Waktu Dan Frekuensi Pemupukan
Waktu Pemupukan Efisiensi pemupukan ditentukan oleh beberapa faktor yang saling terkait. Faktor-faktor penentu tersebut dapat berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan dan penyerapan unsur. Umumnya, pemupukan dilakukan dua kali setahun, yaitu pada awal musim hujan (Oktober-Nopember) dan akhir musim hujan (Maret-April).
Gambar 2.2
grafik curah hujan
Tahapan Pemupukan Pemupukan dilakukan setelah tanaman kakao berumur dua bulan di lapangan. Pemupukan pada tanaman kakao yang belum menghasilkan dilaksanakan dengan cara menaburkan pupuk secara merata dengan jarak 15 cm – 50 cm (untuk umur 2 – 10 bulan) dan 50 cm – 75 cm (untuk umur 14 – 20 bulan) dari batang utama. Untuk tanaman yang telah menghasilkan, penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50 cm – 75 cm dri batang utama. Penaburan pupuk dilakukan dalam alur sedalam 10 cm.
 Pada saat tanaman berusia 12 bulan, pemupukan tanaman kakao dilanjutkan dengan pemberian pupuk ZA dengan ukuran 100 gram pada masing-masing pohon. Pada usia 18 bulan, diberikan pupuk ZA sebanyak 150 gram per pohon, pupuk TSP sebanyak 100 gram per pohon, pupuk KCl 70 gram per pohon dan juga kleserit dengan takaran 50 gram per pohon.
Pada usia 2 tahun atau 24 bulan perlu diberikan lagi pemupukan tanaman kakao. Pupuk  ZA sebanyak 200 gram per pohon. Selama 2 tahun pertama, kemungkinan besar tanaman kakao belum berproduksi. Tanaman cokelat akan mulai berproduksi pada usia sekitar 3 tahun. Oleh karena itu, dosis pemupukan pada tanaman kakao di usia ini jelas berbeda dengan tanaman kakao di usia sebelumnya.
Ketika tanaman kakao berumur 3 tahun, pemupukan tanaman kakao disambung dengan pemberian pupuk ZA sebanyak 2 x 100 gram per pohon, pupuk urea dengan ukuran 2 x 50 gram per pohon, pupuk TSP sebanyak 2 x 50 gram per pohon, serta pemberian pupuk KCl sebanyak 2 x 50 gram per pohon. Dan Saat tanaman berumur 4 tahun, pupuk ZA diberikan dengan dosis 2 x 100 gram per pohon, pupuk urea sebanyak 2 x 100 gram per pohon, pupuk TSP dengan takaran 2 x 100 gram per pohon, dan pupuk KCl sebanyak 2 x 100 gram per pohon.
Selain pemupukan tanaman kakao, untuk budidaya tanaman kakao juga harus merawat tanaman kakao dengan cara penyiraman, pemangkasan, penyiangan dan sebagainya.
pemberantasan hama ini dlakukan dengan penyemprotan pestisida sebanyak dua kali tahapan. tahapan yang pertama di lakukan ketika sebelum benar -benar hama menyerang tanaman, dan tahapan kedua dilkaukan untuk pemebrantasan hama yang sudah menyerang. kadar dan jenis pada pestisida ini harus tetap di sesuaikan dengan kegunaannya.
Untuk tanaman cokelat yang berumur 5 tahun, perlu ditambahkan pupuk ZA dengan jumlah 2 x 250 gram per pohon, pupuk urea sebanyak 2 x 125 gram per pohon, pupuk TSP sebanyak 2 x 125 gram per pohon, serta KCl sebanyak 2 x 125 gram per pohon. Metode pemupukan tanaman kakao dilakukan dengan membuat alur sedalam kurang lebih 10 cm di sekeliling batang kakao. Alur tersebut memiliki diameter sekitar setengah tajuk tanaman cokelat. Waktu pemupukan tanaman kakao lebih baik dilakukan pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.
E.       Teknik Sampung Samping dan Sambung Pucuk
1.        Sambung samping
a.       Alat dan bahan  menyambung :
1)      Alat
a)      Pisau okulasi
b)      Gunting tangkai/cabang
2)      Bahan
a)      Entris
b)      Alkohol
c)      Plastik sungkup/kantong es
d)     Tali rapia
b.      Teknik Penyambungan
Pada sisi batang tanaman kakao setinggi 45−60 cm dari permukaan tanah, dibuat torehan vertikal pada kulitnya setinggi 5 cm. Jarak antar torehan 1−2 cm atau sama dengan diameter entres yang akan disisipkan. Penyambungan dilakukan dengan menyelipkan entres atau ranting muda sebagai batang atas pada batang lain sebagai batang bawah (Sari et al., 2012). Ujung atas torehan dipotong miring ke bawah hingga mencapai kambium. Tanaman yang kulitnya mudah dibuka dan kambiumnya bebas penyakit ditandai dengan warna putih. Pangkal entres disayat miring sehingga bentuk permukaan sayatan runcing seperti baji dengan panjang sayatan 3−4 cm. Untuk memperoleh tingkat keberhasilan penyambungan yang tinggi, entres yang digunakan harus dalam keadaan segar. Entres yang sudah dipersiapkan perlahan-lahan disisipkan pada torehan batang bawah. Sisi sayatan yang berbentuk baji diletakkan menghadap ke kambium batang bawah kemudian lidah kulit ditutup kembali sebelum diikat. Entres lalu dikerodong dengan kantong plastik dan diikat kuat dengan tali rafia.
2.        Sambung pucuk
a.         Alat dan bahan
1)      Alat
a)      Pisau okulasi
b)      Batu asahan
c)      Gunting okulasi
2)      Bahan
a)      Pita pengikat atau rapia
b)      Alkohol
c)      Kantong sungkup atau kantong plastik es
b.         Tehnik sambung pucuk:
1)      Memilih batang bawah yang diameternya kurang lebih sama dengan batang atas.potong batang bawah kurang lebih 20 – 25 cm dari permukaan tanah atau sekitar 3 cm dari bagian hipokotil.kemudian batang bawah di belah sekitar 2-2,5 cm.
2)      Batang atas yg sudah disiapkan buang daunnya, kemudian sayat kedua sisi pangkal cabang sepanjang2- 2,5 cm, sehingga bentuk seperti mata kampak.
3)      Selanjutnya batang atas di masukkan kedalam belahan batang bawah,
4)      Pengikatan atau pembalutan menggunakan sealtip(isolasi paralon) atau bisa juga menggunakan tali yang terbuat dari plastik es.
5)      Tujuan penyungkupan adalah untuk menjaga kelembapan agar tetap tinggidan mengurangi penguapan di sekitar sambungan.Tempatkan tanaman tang sudah tersambung di tempah yang teduh atau di beri naungan agar terhindar dari panas
6)      Proses selanjutnya tinggal perawatan bibit sampai siap di tanam di kebun,sekitar 3-6 bulan kemudian. Teknologi bisa anda coba dan diterapkan pada tanama buah yang berbatang keras seperti mangga, durian, alpukat dll.














BAB III
METODE PELAKSANAAN

A.      Tempat dan Waktu Pelaksanaan
1.      Tempat praktikum
Tempat pelaksanaan praktek tanaman perkebunan utama Di Desa Meeto Kecamatan Kodeoho Kabupaten Kolaka Utara, tepatnya di perkebunan Pak Usman, SP.
2.      Waktu penelitian
Tanggal 15 januari tahun 2017.
Waktu pelaksanaan, Jam 09.30 WIB
B.       Metode Kegiatan
Kegiatan yang kami lakukan selama berada di kolaka utara yaitu kunjungan lapangan di lokasi praktek. Setelah tiba di sana kami menerima materi oleh mentor kakao mulai dari pemilihan bibit yang berkualitas baik, sambung pucuk, pemeliharaan yang baik, pemupukan, pemberantasan hama, pemangkasan yang baik hingga sampai tehnik peremajaan sambung samping.
kemudian kami mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya kepada pemateri apabila ada yang ingin kami pertanyakan dan yang belum kami pahami, kami di persilahkan untuk bertanya. Sesudah proses tanya jawab kami juga di ajarkan bagaimana cara pemeliharaan tanaman kakao mulai dari pemilihan bibit kakao yang unggul.
Adapun penjelasan yang di paparkan oleh mentor kakao:
1.        Pemilihan bibit
Gambar 3.1
Bibit kakao sehat

Pemilihan bibit kakao itu dilihat dari kondisi bibit yang berkualitas mulai dari kondisi tanah poly bag yang subur, bibit tidak terserang hama, postur bibit kakao maksimal dan berasal dari klon yang sehat.
2.        Jenis pohon pelindung dan jarak tanam
Jenis pohon pelindung yang sering digunakan adalah kelapa dan pisang.
a.         Kelapa (Cocos nucifera)
Gambar 3.2
pohon pelindung kelapa untuk kakao
Tanaman kelapa dapat digunakan sebagai tanaman penaung tetap untuk tanaman kakao. Dalam hal ini harus diatur agar persaingan minimal. Sebaran akar kakao terbanyak sampai radius 1 m dan sebaran akar kelapa terbanyak sampai radius 2 m, oleh karena itu perlu dibuat tatatanam dengan jarak antara kakao dan kelapa minimal 3 m. Dengan jarak tanam kelapa 10×10 m dan jarak tanam kakao 4×2 m dalam gawangan kelapa utara-selatan, maka dapat diperoleh pertanaman dengan populasi tanaman yang cukup yaitu tanaman kakao 1000 ph/ha dan kelapa 100 ph/ha. Sebagai penaung tanaman kakao, fungsi penaungan tanaman kelapa dapat diatur dengan melakukan siwingan (pangkasan) pelepah bila penaungannya terlalu gelap, terutama pada musim hujan. Demikian pula pada tanaman kelapa yang sudah cukup tua dan tinggi, apabila penaungannya kurang dapat ditambah tanaman penaung lain misalnya dengan lamtoro yang ditanam di diagonal tanaman kelapa. Tata tanam dalam penggunaan kelapa sebagai penaung kakao dapat disusun sebagaimana gambar berikut:
Keterangan :
        Jarak tanam kakao 4×2 m (1000 ph/ha)
        Jarak tanam kelapa 10×10 m (100 ph/ha)
        Jarak kakao - kelapa 3 m
Gambar 3.3 pohon pelindung pisang
b.        Pisang (Musa paradisiaca)
Tanaman pisang dapat dimanfatkan sebagai tanaman penaung sementara dalam budidaya kakao. Tanaman pisang dapat ditanam dengan jarak tanam 6×3 m, sehingga di dalam lorong tanaman pisang arah utara-selatan dapat ditanam 2 baris tanaman kakao dengan jarak tanam 3×3 m. Sebagai tanaman penaung sementara, tanaman pisang dapat ditanam 6-12 bulan sebelum tanam kakao. Selanjutnya rumpun pisang dapat memelihara 2-3 anakan saja. Tanaman pisang dapat dipelihara sampai tahun ke 4 atau sesuai dengan keperluan dengan tetap memperhatikan tingkat penaungannya untuk tanaman kakao. Tata tanam kakao dengan pisang sebagai tanaman penaung sementara dapat digambarkan sebagai berikut :
Keterangan :
        Jarak tanam kakao 3 x 3 m (1100 ph/ha)
        Jarak tanam kelapa 6 x 3 m (550 ph/ha)
        Barisan arah utara-selatan
3.        Hama dan penyakit utama tanaman kakao dan Pengendaliannya
Hama penting yang sering menyerang tanaman kakao adalah Penggerek buah kakao (PBK), Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis), Penggerek batang/cabang (Zeuzera coffeae), Tikus dan tupai/bajing dan penyakit penting kakao diantaranya yaitu Vascular streak dieback (VSD), Busuk buah, Kanker batang, Antraknose, Jamur akar, Jamur upas.
a.         Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella, Famili Gracillariidae, Ordo Lepidoptera
Gambar 3.4 penggerek buah kakao (PBK)

Gejala serangan pada buah (warna kuning tidak merata) Hama kakao ini sangat merugikan. Serangannya dapat merusak hampir semua hasil. Penggerek Buah Kakao dapat menyerang buah sekecil 3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang berukuran sekitar 8 cm. Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji. Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi. Biasanya lebih berat daripada yang sehat. Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil.
v  Hama ini dapat dikendalikan dengan :
1)     sanitasi, Cara sanitasi penting untuk mematikan PBK yang ada dalam buah yang sudah dipanen. Jika tidak dimatikan, PBK tersebut dapat berkembangbiak dan menyerang buah yang masih ada di pohon. Setelah buah dipanen, seluruhnya dibelah, Kulit buah dimasukkan ke dalam lobang dan ditutup dengan tanah atau dengan plastik untuk membunuh larva yang masih ada / hidup pada buah. Jika tidak segera dikerjakan simpanlah buah dalam karung plastik yang diikat rapat. Cara tersebut mencegah PBK keluar dan menyerang buah yang belum masak di pohon.
2)     pemangkasan, Pemangkasan juga bermanfaat untuk mengendalikan PBK. Melalui pemang-kasan kita mengurangi / membuang cabang, ranting, dan daundaun yang tidak berguna sehingga penggunaan zat makanan lebih efektif, dan tanaman kakao akan semakin baik pertumbuhannya, bukan hanya dalam hal tajuk tetapi juga dalam pertumbuhan buah. Selain itu, pemangkasan akan memberikan banyak penetrasi sinar matahari, serta gerakan angin yang bebas sehingga akan mengurangi serangan PBK. Karena itu, lakukanlah pemangkasan yang tepat waktu dan cara benar, baik dalam pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi, maupun pemangkasan
3)     pemeliharaan. Pemupukan Dampak utama pemupukan terhadap tanaman kakao adalah merangsang pertumbuhan yang baik. Dampak ini meningkatkan ketahanan kakao terhadap PBK. Tanaman kakao yang tumbuh sehat akan lebih tahan terhadap serangan PBK. Karena itu, lakukanlah pemupukan yang benar dengan memperhatikan dosis, jenis, cara, waktu, dan tempat.
4)     membenam kulit buah,
5)     memanen satu minggu sekali, Untuk menurunkan jumlah PBK,sebaiknya semua buah yang sudah masak atau masak awal dipanen seminggu sekali. Cara ini menghindari perpanjangan perkembangan / Daur hidup PBK dikebun.
6)     kondomisasi, dapat mencegah serangan PBK. Kantong tersebut harus dilobangi di bagian bawah supaya air dapat keluar. Jika tidak dilubangi, mungkin buah kakao akan membusuk. Saat yang tepat pengantongan adalah pada saat ukuran panjang buah sekitar 8 cm.
7)     serta dengan cara hayati/biologi  dengan menggunakan musuh alami.
b.         Kepik pengisap buah kakao Helopeltis spp., Famili Miridae, Ordo Hemiptera Kepik Helopeltis spp.
Gambar 3.5
Kepik pengisap buah kakao Helopeltis spp

Termasuk hama penting yang menyerang buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi sebaliknya pada buah muda. Selain kakao, hama ini juga memakan banyak tanaman lain, diantaranya: teh, jambu biji, jambu mete, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubi jalar, dll. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua, tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras dan retak. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati, ranting mengering dan meranggas. 
v  Hama ini dapat dikendalikan dengan
1)        pemangkasan dan
2)        cara hayati.
c.        Penggerek batang/cabang Zeuzera coffeae, Famili Cossidae, Ordo Lepidoptera
Gambar 3.6
penggereg batang kakao

Ulat hama ini merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju empelur (xylem) batang/cabang. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas. Menyerang tanaman muda. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Akibat gerekan ulat, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering dan mati.
v  Cara pengendalian meliputi :
1)         lubang gerekan dibersihkan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan.
2)         Cara mekanis yang lain adalah memotong batang/ cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerekan ke arah batang/ cabang, kemudian ulatnya dimusnahkan/ dibakar.
3)         Cara hayati bisa dipakai, misalnya dengan Beauveria bassianaatau agen hayati lain.
d.         Penyakit Vascular streak dieback (VSD) Oncobasidium theobromae, Kelas Basidiomycetes, Ordo Uredinales
Gambar 3.7
Vascular streak dieback (VSD)

Penyakit VSD disebabkan oleh O. theobromae, yang dapat menyerang di pembibitan sampai tanaman dewasa. Gejala tanaman terserang, daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau, dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun (ompong). Bila permukaan bekas menempelnya daun diiris tipis, akan terlihat gejala bintik 3 kecoklatan. Permukaan kulit ranting kasar dan belang, bila diiris memanjang tampak jaringan pembuluh kayu yang rusak berupa garis-garis kecil (streak) berwarna kecoklatan. Penyebaran penyakit melalui spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif tanaman. Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban. Embun dan cuaca basah membantu perkecambahan spora. Pelepasan dan penyebaran spora sangat dipengaruhi oleh cahaya gelap.    
v  Pengendalian penyakit :
Dengan memotong ranting/cabang terserang sampai 30cm pada bagian yang masih sehat kemudian dipupuk NPK 1,5 kali dosis anjuran.
1)      Pemangkasan bentuk yang sekaligus mengurangi kelembaban dan memberikan sinar matahari yang cukup. Pemangkasan dilakukan pada saat selesai panen sebelum muncul flush.
2)      Parit drainase dibuat untuk menghindari genangan air dalam kebun pada musim hujan.-Untuk pencegahan, tidak menggunakan bahan tanaman kakao dari kebun yang terserang VSD, dan menanam klon kakao yang tahan atau toleran terhadap VSD.
e.          Busuk buah Phytophthora palmivora, Famili Pythiaceae, Ordo Pythiales
Gambar 3.8
busuk buah Phytophthora palmivora

Penyakit ini disebabkan oleh jamur P. palmivora yang dapat menyerang buah muda sampai masak. Buah yang terserang nampak bercak bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung buah. Apabila keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah. Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab terutama pada musim hujan. Buah yang membusuk pada pohon juga mendorong terjadinya infeksi pada buah lain dan menjalar kebagian batang/cabang. Patogen ini disebarkan oleh angin dan air hujan melalui spora. Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, kelembaban udara dan tanah yang tinggi terutama pada pertanaman kakao dengan tajuk rapat.
v  Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan :
1)       sanitasi kebun
2)       mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang)
3)       kultur teknis
4)       Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal yang penting dilakukan terutama pada musim hujan
5)       Penanaman klon resisten atau toleran merupakan cara yang wajib diperhatikan.
f.          Kanker batang Phytophthora palmivora, Famili Pythiaceae, Ordo Pythiales
Gambar 3.9
kangker batang Phytophthora palmivora

Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang sama dengan penyebab penyakit busuk buah. Gejala kanker diawali dengan adanya bagian batang/cabang menggembung berwarna lebih gelap/ kehitam-hitaman dan permukaan kulit retak. Bagian tersebut membusuk dan basah serta terdapat cairan kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat. Jika lapisan kulit luar dibersihkan, maka akan tampak lapisan di bawahnya membusuk dan berwarna merah anggur kemudian menjadi coklat. Penyebaran penyakit kanker batang sama dengan penyebaran penyakit busuk buah. Penyakit ini dapat terjadi karena pathogen yang menginfeksi buah menjalar melalui tangkai buah atau bantalan bunga dan mencapai batang/cabang. Penyakit ini berkembang pada kebun kakao yang mempunyai kelembaban dan curah hujan tinggi atau sering tergenang air.
v  Pengendalian penyakit :
1)         Dapat dilakukan dengan mengupas kulit batang yang membusuk sampai batas kulit yang sehat. Luka kupasan dioles dengan fungisida tertentu.
2)         Pemangkasan pohon pelindung dan tanaman kakao dilakukan agar di dalam kebun tidak lembab.
3)         Apabila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka tanaman dipotong atau dibongkar.
g.         Antraknose Colletotrichum gloeosporioides, Famili Melanconiacea, Ordo Melanconiales
Gambar 3.1.1
Antraknose Colletotrichum gloeosporioide

Penyakit antraknose disebabkan oleh jamur. C. gloeosporioides yang menyerang buah, pucuk/daun muda dan ranting muda. Pada daun muda nampak bintik-bintik coklat tidak beraturan dan dapat menyebabkan gugur daun. Ranting gundul berbentuk seperti sapu dan mati. Pada buah muda nampak bintik-bintik coklat yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (antraknose). Buah muda yang terserang menjadi layu, kering, dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya. Penyakit ini tersebar melalui spora yang terbawa angin ataupun percikan air hujan. Penyakit cepat berkembang terutama pada musim hjan dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi.  
v  Pengendalian penyakit :
1)       Dilakukan dengan dengan memangkas cabang & ranting yang terinfeksi, mengambil buah-buah yang sakit dikumpulkan dan ditanam atau dibakar.
2)       Melakukan pemupukan (N,P,K) satu setengah kali dosis anjuran.
3)       Pengaturan naungan sehingga tajuk pohon kakao tidak terkena sinar matahari langsung dan
4)       Perbaikan drainase tanah untuk menghindari genangan air di dalam  kebun.
h.         Jamur akar Ganoderma philippii(1), Fomes lamaoensis(2), Rigidoporu  lignosus/Fomes lignosus
Gambar 3.1.2
jamur akar merah

Gambar 3.1.3
jamur akar coklat

Gambar 3.1.4
jamur akar putih

Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: (1) Penyakit jamur akar merah; (2) Penyakit jamur akar coklat; (3) Penyakit jamur akar putih. Ketiganya menular melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi pada pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya tertinggal di dalam tanah akan menjadi sumber penyakit. Ketiga jenis penyakit ini mempunyai gejala: daun menguning, layu dan gugur, kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Untuk mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar.
v  Pencegahan penyakit dilakukan dengan :
1)       Membongkar semua tunggul pada saat persiapan lahan terutama yang terinfeksi jamur akar.
2)       Lubang bekas bongkaran diberi 150gr belerang dan dibiarkan minimal 6 bulan.
3)       Pada saat tanam diberi 100 gr Trichoderma sp. per lubang.
4)       Pada areal pertanaman, pohon kakao yang terserang berat dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar di tempat itu juga.
5)       Lubang bekas bongkaran dibiarkan terkena sinar matahari selama 1 tahun.
6)       Minimal 4 pohon di sekitarnya diberi Trichoderma sp. 200gr/pohon pada awal musim hujan dan diulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di areal pertanaman kakao tersebut.
i.           Jamur upas Corticium salmonicolor, Famili Corticiaceae, Ordo Stereales
Gambar 3.1.5
jamur upas Corticium salmonicolor

Penyakit jamur upas dapat menyerang tanaman kakao, karet, kopi, teh, kina dan lain-lain. Infeksi jamur ini pertama kali terjadi pada sisi bagian bawah cabang ataupun ranting. Apabila menyerang ranting dan cabang kecil umumnya tidak menimbulkan kerugian yang berarti, karena dengan memotong ranting/cabang kecil yang terserang cukup untuk mengendalikan jamur ini dan tumbuhnya bunga pada ranting dan cabang kecil tidak kita harapkan. Serangan dimulai dengan adanya benangbenang jamur tipis seperti sutera, berbentuk sarang laba-laba. Pada fase ini jamur belum masuk ke dalam jaringan kulit. Pada bagian ujung dari cabang yang sakit, tampak daun-daun layu dan banyak yang tetap melekat pada cabang, meskipun sudah kering. Jamur ini menyebar melalui tiupan angina atau percikan air. Keadaan lembab dan kurang sinar matahari sangat membantu perkembangan penyakit ini.
v  Pengendalian dapat dilakukan :
1)       Dengan cara mekanis, yaitu memotong cabang/ranting sakit sampai 15 cm pada bagian yang masih sehat; membersihkan /mengeruk benangbenang jamur pada gejala awal dari cabang yang sakit, kemudian diolesi dengan fungisida.
2)       Cara kedua adalah dengan kultur teknis, yaitu pemangkasan pohon pelindung untuk mengurangi kelembaban kebun sehingga sinar matahari dapat masuk ke areal pertanaman kakao.
4.        Jenis batang kakao
Gambar 3.1.6
sketsa batang pada tanaman kakao

a.         Batang primer
Batang primer adalah batang terminal pembagian nutrisi kebatang sekunder.
b.         Batang sekunder
Batang sekunder adalah batang yang menerima nutrisi dari batang primer lalu menghantarkannya kebatang tersier.
c.         Batang tersier
Batang tersier adalah batang yang menghantarkan nutrisi dari batang sekunder ketangkai-tangkai kakao.
5.        Jenis-jenis cabang penggangu nutrisi tumbuhan kakao
a.         Cabang balik
Gambar 3.1.6 cabang balik

b.         Cabang cambuk
Gambar 3.1.7
cabang cambuk

c.         Cabang gantung
Gambar 3.1.8
cabang rapat

d.        Cabang rapat
Gambar 3.1.9
cabang rapat

e.         Cabang bertingkat
Gambar 3.2.1
cabang bertingkat

f.          Cabang cacing
Gambar 3.2.2
cabang cacing

g.         Cabang mati
Gambar 3.2.3
cabang mati

h.         Cabang tindih
Gambar 3.2.4
cabang tindih

6.        Jenis – Jenis Pemangkasan
a.       Pemangkasan bentuk
1)    Pemangkasan bentuk yang berumur 8-24 bulan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a)      Memotong cabang primer sehingga tersisa tiga cabang yang tumbuh sehat dan arahnya simetris. Pemangkasan ini dilakukan pada umur 8-12 bulan dan pada saat umur masih remaja 18-24 bulan.
Gambar 3.2.5
cabang bentuk

b)      Memotong cabang-cabang sekunder yang tumbuh terlalu dekat dengan jorketnya (40-60 cm)
Gambar 3.2.6
sketsa cabang

c)      Mengatur cabang-cabang sekunder berikutnya agar jaraknya tidak terlalu rapat.
d)     Memotong cabang-cabang yang tumbuh meninggi, sehingga tanaman kakao hanya 4-5 m.
2)    Adapun jenis pemangkasan bentuk untuk kakao yang sudah berumur lebih dari 5 tahun adalah sebagai berikut:
a)        Pemangkasan gelas
Gambar 3.2.7
Pemangkasan gelas

yaitu pemangkasan yang di lakukan dengan cara memangkasan dengan bentuk pohon kakao yang berbentuk seperti gelas. Pemangkasan ini di lakukan jika kakao kekurangan penyinaran matahari dan tingkat kelembaban tanah yang begitu basah yang membutuhkan penyinaran matahari dan di daerah pengunungan yang kekurangan sinar matahari.
b)      pemangkasan mahkota
Gambar 3.2.8
pemangkasan mahkota

yaitu pemangkasan yang dilakukan dengan cara memangkasan dengan bentuk pohon kakao seperti mahkota. Pemangkasai ini biasa dilakukan di daerah yang tanah datar agar menghasilkan bentuk yang efesien untuk pembagian nutrisi kakao.
c)      pemangkasan beringin
Gambar 3.2.9
pemangkasan beringin

yaitu pemangkasan yang dilakukan dengan cara memangkasan dengan bentuk seperti beringin. Pemangkasan ini di lakukan untuk menhindari batang dan tangkai menggantung atau menjulur kebawah.
b.      Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan pemeliharaan di lakukan dengan cara sebagai berikut :
1)      Mengurangi sebagian daun yang rimbun dengan cara memotong ranting-ranting yang terlaindung dan menaungi.
2)      Memotong cabang yang ujungnya yang masuk kedalam tajuk tanaman.
3)      Mengurangi daun yang mengantung dan menghalangi aliran udara di dalam kebun.
c.       Pemangkasan Produksi
Pemangkasan produksi dilakukan dua kali setahun, yaitu pada awal musim kemarau – awal musim hujan serta pada akhir musim kemarau, yaitu dengan cara sebagai berikut:
1)      Memotong cabang yang tumbuh meninggi ( lebih dari 3-4 m).
2)      Memangkas ranting dan daun hingga 25-50 %.

Tujuan Pemangkasan Adalah :
1)      Meperoleh kerangka dasar ( frame) tanaman kakao yang baik seagai pendukung mahkota tanaman.
2)      Mengatur penyebaran cabang dan ranting serta daun-daun produktif.
3)      Membuang bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, misalnya tunas air, cabang yang sakit, mati, patah, saling bergesekan dan lain-lain.
4)      Merangsang tanaman membentuk organ baru yaitu cabang dan ranting, daun yang lebih produktif.
5)      Mengurangi kelembaban kebun untuk mencegah serangan hama dan penyakit.
7.        Pemberian pestisida, pemberian insektisida dan pemberian
Pemberian pestida yang dijelakan pada waktu pagi hari dikarenakan stomata daun terbuka pada waktu pagi hari agar kiranya gulma mati secara sistematis. Sedangakan waktu pemberian insektisida dan fungisida dilakukan pada pada sore hari menjelang magrib di karenakan hama fungi, hama ulat dan hama yang lain-lain menyukai habitat yang gelab dan lembab maka dari itu hama-hama akan beraksi ketanaman pada waktu malam hari.
8.        Pemupukan

Gambar 3.3.1
pemupukan sistem tabur

Gambar 3.3.2
Pemupukan sistem piringan

Gambar 3.3.3
pemupukan sistem tugal

Adapun jenis pemupukan yaitu sistem tugal, sistem tabur dan sistem piringan. Pemupukan pada tanaman kakao yang belum menghasilkan dilaksanakan dengan cara menugal, menaburkan atau dengan cara menggali dengan cara melingkar berbentuk piringan secara merata dengan jarak 15 cm – 50 cm (untuk umur 2 – 10 bulan) dan 50 cm – 75 cm (untuk umur 14 – 20 bulan) dari batang utama. Untuk tanaman yang telah menghasilkan, penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50 cm – 75 cm dri batang utama atau mengikuti alur naungan daun. Penaburan pupuk dilakukan dalam alur sedalam 10 cm.
Pada saat tanaman berusia 12 bulan, pemupukan tanaman kakao dilanjutkan dengan pemberian pupuk ZA dengan ukuran 100 gram pada masing-masing pohon. Pada usia 18 bulan, diberikan pupuk ZA sebanyak 150 gram per pohon, pupuk TSP sebanyak 100 gram per pohon, pupuk KCl 70 gram per pohon dan juga kleserit dengan takaran 50 gram per pohon.
Pada usia 2 tahun atau 24 bulan perlu diberikan lagi pemupukan tanaman kakao. Pupuk  ZA sebanyak 200 gram per pohon. Selama 2 tahun pertama, kemungkinan besar tanaman kakao belum berproduksi. Tanaman cokelat akan mulai berproduksi pada usia sekitar 3 tahun. Oleh karena itu, dosis pemupukan pada tanaman kakao di usia ini jelas berbeda dengan tanaman kakao di usia sebelumnya.
Ketika tanaman kakao berumur 3 tahun, pemupukan tanaman kakao disambung dengan pemberian pupuk ZA sebanyak 2 x 100 gram per pohon, pupuk urea dengan ukuran 2 x 50 gram per pohon, pupuk TSP sebanyak 2 x 50 gram per pohon, serta pemberian pupuk KCl sebanyak 2 x 50 gram per pohon.
Saat tanaman berumur 4 tahun, pupuk ZA diberikan dengan dosis 2 x 100 gram per pohon, pupuk urea sebanyak 2 x 100 gram per pohon, pupuk TSP dengan takaran 2 x 100 gram per pohon, dan pupuk KCl sebanyak 2 x 100 gram per pohon.
9.        metode sambung samping
Menjelaskan metode sambung samping dengan cara menyiapkan alat yaitu pisau okulasi dan bahan plastik sungkup atau plastik es, tali rapia, batang entris yang sehat terhindar dari penyakit VSD.waktu sambung samping yang ideal  adalah pada saat waktu satu bulan setelah musim hujan.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk sambung samping dengan cara :
a.    melihat batang kakao yang masih sehat, berwarna kecoklatan kihijau-hijauan, memeriksa apakah batang kakao yang ingin di sambung masih memiliki kelenjar kambium yang baik,
Gambar 3.3.4
batang kakao

b.    mengambil batang entris dari klon yang terbaik yang berwarna kecoklatan kehijauan sehat dengan panjang 0.7-1,50 cm dan memiliki 3 mata tunas (hemagon) untuk tumbuhnya batang kakao nantinya,
Gambar 3.3.5
batang entris
c.    melakukan penyayatan dengan tinggi diameter 45-60 cm dari permukaan tanah,
d.   menyayat batang kakao yang ingin di sambung samping dengan bentuk segi tiga secara hati-hati agar tidak merusak kulit kakao lalu membuka sayatan lalu menutupnya kembali agar kambium pada batang kakao tidak mengering,
Gambar 3.3.6
cara menyayat batang kakao

e.    iris batang bawah entris dengan menyayat menyilang agar hasil sayatan rapih dan sesuai dengan panjang hasil sayatan batang kakao tadinya agar pas setelah di pasang. Irisan juga harus seimbang kiri kanan,
Gambar 3.3.7
cara menyayat menyilang batang entris

f.     masukan batang entris kedalam batang kakao yang sudah disayat tadi secara pas,
g.    ikat batang kakao secara melingkar agar sambung samping melekat secara sempurna ,
h.    tutup sambung samping dengan kantong sungkup dengan mengikat bagian atas secara rapat tapi tidak mengenai batang entris lalu ikat bagian bawah secara rapat agar kedap air hujan,
Gambar 3.3.8
cara mengikat plastik sungkup dengan rapat

i.      Sutelah sambung samping berumu tiga sampai empat minggu bukalah sungkup sambung samping bagian atas, biarkan tali rapia bagian bawan terus terikat sampai sambung samping benar-benar melekat kebatang kakao,
Gambar 3.3.9
sambung samping

j.      Setelah berumur satu sampau satu setengah bulan bukalah tali dari pengikat sungup bawar karna sambung samping telah melekat sepenuhnya,.
k.    Setelah sambungan berumur enam bulan sampai satu tahun potonlah batang induk kakao setinggi 50-60 cm dari permukaan sambungan.
10.    Metode Sambung pucuk
Adapun metode sambung pucuk yang dipraktekkan:
a.    meyiapkan alat yaitu pisau okulasi
b.    menyiapkan bahan yaitu bibit kakao berumur tiga bulan, sungkup dari kantong plastik es yang kecil berdiameter 3x7 cm, tali rapia, batang entris yang sehat dengan klon yang unggul
c.    langkah awal yang dilakukan ialah memotong batang bibit 20-25 cm dari permukaan tanah atau sekitar 3cm dari bagian hipokotil. Kemudian batng bawah di belah sekitar 2-2,5cm.
d.   Batang atas yg sudah disiapkan buang daunnya, kemudian sayat kedua sisi pangkal cabang sepanjang 2- 2,5 cm dengan menyayat menyilang agar rapih, sehingga bentuk seperti mata kampak.
Gamabar 3.4.1
Menyayat batang entris

e.    Selanjutnya batang atas di masukkan kedalam belahan batang bawah
f.     Pengikatan atau pembalutan menggunakan sealtip(isolasi paralon) atau bisa juga menggunakan tali yang terbuat dari plastik es.
g.    Tujuan penyungkupan adalah untuk menjaga kelembapan agar tetap tinggi dan mengurangi penguapan di sekitar sambungan.Tempatkan tanaman tang sudah tersambung di tempah yang teduh atau di beri naungan agar terhindar dari panas matahari langsung
Gambar 3.4.2
sambung pucuk
h.    Proses selanjutnya tinggal perawatan bibit sampai siap di tanam di kebun, sekitar 3-6 bulan kemudian. Teknologi bisa anda coba dan diterapkan pada tanama buah yang berbatang keras seperti mangga, durian, alpukat dll.
C.      Alat dan bahan
1.      Alat dan bahan sambung pucuk :
a.    Alat :
1)         Pisau okulasi
Gambar 3.4.2 pisau okulasi

b.    Bahan
1)        bibit kakao yang ingin disambung
Gambar 3.4.3
Bibit kakao

2)        Batang entris yang sehat
Gambar 3.4.4
Batang entris

3)        Cairan alkohol untuk mengsterilkan pisau okulasi
Gambar 3.4.5 cairan alkohol

4)        Plastik sungkup/plastik es lilin
Gambar 3.4.6 plastik sungkup








BAB IV
PEMBAHASAN

A.      Gambaran Umum Tempat Penelitian
Desa Meeto adalah salah satu desa yang terdapad di Kecamatan Kodeoha Kabupaten Kolaka Utara. desa meeto kecamatan kodeoha kabupaten kolaka utara yang kondisi pada umumnya memiliki dua musim yaitu musimkemarau dan musim hujan. Musim kemarau biasanya di mulai pada bual juni sampai oktober, iklim pancaroba dimulia pada bulan november sampai bualan agustus, sedangkan musim penghujan dimulai pada bulan september dan berakhir pada bulan mei.
B.       Produk yang dihasilkan
Produk yang di hasilkan dalam kakao adalah biji kering yang akan diolah menjadi coklat ( silverqueen), cocoa powder( van houten). Coklat batangan atau coklat bubuk kakao dan lain-lain.
C.      Kebutuhan Tenaga Kerja
Kebutuhan tenaga kerja pada kebun kakao pak usman s.p yaitu seorang saja karena luas lahan kebun kakao pak usman s.p seluas kurang dari 0,3 ha.
Adapun biodata Pak Usman, S.P :
Nama petani      :Usman, S.P
Umur petani       :36 tahun
Alamat petani    :Desa Meeto, Kecamatan Kodeoha, Kab. Kolaka Utara
D.      Luaas Lahan
Luas lahan tempat praktikum perkebunan kakao di Desa meeto, kecamatan kodeoha, kab kolaka utara 0,3 ha.
E.       Jumlah Produksi
Jumlah populasi tanaman kakao dalam luas lahan 30 are atau 0,3 ha 281 pohon dengan umur 1,2 tahun. produksi secara umum belum bisa di kalkulasi karna kebun lahan praktek lapang belum berproduksi.
F.       Cara Perhitungan Jumlah Pupuk
Perhitungan jumlah pupuk:
1.        Pupuk organik 5kg /pohon/tahun
2.        NPK 1kg /pohon/tahun (4 x aplikasi)
G.      Perhitungan Jumlah Biaya
Untuk perkebunan kakao tempat praktukum yakni perkebunan milik pak USMAN, S.P tanpa tenaga kerja tambahan melainkan dia sendiri. Adapun analisis biaya pengeluarannya sebagai berikut.
Analisis Budidaya Kakao
1.        Modal Tetap :
a.       Lahan                                                            Rp. 15.000.000
b.      Gunting okulasi                                            Rp. 25.000
c.       Cangkul                                                        Rp. 70.000
d.      Parang                                                           Rp. 100.000
e.       Keep merk solo                                             Rp. 140.000
f.       batu asah                                                       Rp. 20.000
Total                                                              Rp. 15.229.000
Penyusutan Alat dalam 5thn :
a.       Gunting tunas okulasi 20%                           Rp. 1.333
b.      Cangkul 20%                                                Rp. 4.400
c.       Keep merk solo 20%                                     Rp. 7.466
d.      Parang 20%                                                   Rp. 5.333
e.       Batu asah 20%                                              Rp. 1.066
Total                                                              Rp. 19.598
TOTAL BIAYA TETAP                             Rp. 15.248.598
2.        Modal Lancar Atau Variabel :
a.       Bahan
1)        Bibit                                                       Rp. 843.000
2)        Pupuk NPK                                           Rp. 520.000
3)        Pestisida furadan                                   Rp. 28.000
b.      Tenaga Kerja
1)      Pembuatan lubang tanam                        Rp. 1.405.000
c.       Lain-lain
1)      Perawatan                                               Rp. 300.000
2)      Transportasi                                            Rp. 90.000
3)      Penjagaan lahan                                      Rp. 100.000
TOTAL MODAL VARIABEL             Rp. 3.286.000

Pengeluaran selama memulai usaha perkebunan kakao ( Output)
1)      Modal Tetap / biaya tetap                                           Rp. 15.395.500
2)      Modal Lancar Atau Variabel /biaya variabel              Rp. 4.592.500
TC=FC+VC

15.248.598 + 3.286.000  =  18.534.598
TC dari pengeluaran dari biaya tetap ditambah biaya varibel adalah =
 Rp. 18.534.598





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
            Selama melaksanakan kegiatan Praktek Lapang diperkebunaan Pak Usman, S.P di Desa Meeto Kecamatan Kodeoha Kab. Kolaka Utara. Mahasiswa praktek memperoleh banyak ilmu dari tempat praktek lapang baik secara teori maupun praktik. penulis mendapatkan pengalaman yang baru dan juga mendapatkan pengetahuan tetang cara membudidayakan tanaman perkebunan kakao mulai dari pemilihan bibit yang berkualitas baik, sambung pucuk, pemeliharaan yang baik, tanaman pohon pelindung, pemupukan, pemberantasan hama, pemangkasan yang baik, tehnik peremajaan sambung samping sampai produksi.
B.       Saran
Semoga dengan adanya  laporan praktikum yang kami buat ini pembaca atau teman –teman dapat mempergunakanya dengan baik, dan juga dapat bermanfaat bagi kita semua. Terutama untuk lebih mengetahui informasi mengenai cara pembudidayaan tanaman Kakao. Serta dapat menjadi bahan acuan didalam pembudidayaan tanaman kakao.
Hasil praktikum telah yang dilakukan di Desa meeto memunculkan saran-saran baik kepada para mahasiswa fakultas pertanian, perikanan dan peternakan usahatani maupun kepada instansi terkait yaitu sebagai berikut:
1)      Bagi mahasiswa sebaiknya menerapkan sitem dan mekanisme budidaya usahatani kakao sehingga mahasiswa selanjutnya kiranya berpraktikum di Desa Meeto dapat memberikan dampak positif bagi keilmuan mahasiswa pelaku praktikum tanaman perkebunan nantinya.
2)      Bagi pemerintah sebaiknya lebih mengintensifkan penyuluhan pertanian yang mengarah pada sistem pertanian agribisnis sehingga petani mampu mengelola pertanian secara baik agar mendatangkan keuntungan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Adinugraha, H A.; B. Leksono dan F. Halang 2005. Keberhasilan tumbuh beberapa klon jenis ekaliptus dengan penerapan dua teknik sambungan. Jurnal Penelitian Hutan tanaman, 2,96-102.
Agussalim. 2009. Produksi Sambung Samping pada tanaman kakao (Study kasus Prima Tani di Kabupaten Kolaka). Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian. BPTP Sulawesi Tenggara. Hal : 40-46.
http://www.pdfchaser.com/KAKAO%E2%80%A6YANG-NIKMAT-SULIT-DIRAWAT.html
Limbongan, J dan Langsa, Y. 2006. Peremajaan pertanaman kakao dengan klon unggul melalui teknik sambung samping (side-cleft grafting) di Sulawesi Tengah. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Usaha Agribisnis Industri Pedesaan, Palu.
Lukito, A.M., Mulyono, Yulia, T. dan Iswanto, H., 2004. Panduan Lengkap Budidaya Kakao. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Siregar, Tumpal H.S; Slamet Riyadi, Laeli Nuraeni. 2006. Pembudidayaan, Pengolahan, dan Pemasaran Cokelat. Penerbit Penebar Swadaya : Jakarta.
Susanto, F.X. 1994. Tanaman Kakao Budidaya dan Pengolahan Hasil. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.
Willy, Bryan. 2010. Standar Pembibitan. http://bryanwilly32.blogspot.com/ 2010/07/standar-pembibitan. html diakses tanggal 20 Oktober 2014 pukul 21.18 wib.